Dulu saya sempat berpikir bahwa jodoh
adalah proses mencari dan ditemukan, sekarang saya punya pandangan lain. Jodoh menurut
saya adalah tentang saling kuat-kuatan toleransi akan ketidaksukaan.
Bisa jadi saya adalah manusia termenyebalkan
menurut kalian.
Saya yang sulit sekali membaca peta, tidak
handal dijadikan navigator.
Saya yang ribet masalah debu dan kebersihan
rumah.
Saya yang risih jika sprei tidak diganti
lebih dari satu minggu lamanya.
Saya yang bisa bete kalau sprei ‘ngeres’
ada serpihan kotoran atau barang yang bukan seharusnya berada di tempat tidur.
Saya yang geli jika kamar mandi atau toilet
bernoda atau licin.
Saya yang pusing lihat kalau lihat rumah berantakkan.
Saya yang bisa mengingat dengan jelas perilaku orang lain yang tidak menyenangkan.
Saya yang cengeng setiap orang yang saya sayang
bersuara keras, terkesan membentak padahal mungkin tidak ada maksud mereka
membentak, hati saya saja yang selembek nutrijell.
Tapi disisi lain saya juga bisa berteriak
bersuara keras jika panik menyerang.
Mungkin saya dapat medali emas di
semesta bapak Ali untuk kategori wanita paling menyebalkan.
Lalu, apa pasangan saya menyebalkan?
Bisa jadi.
Apa saja bentuk perilaku menyebalkannya?
Tidak perlu disebutkan karena lagi-lagi, jodoh
adalah tentang saling kuat-kuatan toleransi atas ketidaksukaan.
Jauh akan lebih sulit jika kita terus
menerus meramaikan otak dengan pikiran-pikiran yang tidak penting, seperti
tulisan saya ini.